• header
  • header
  • Akreditasi

MARHABAN AHLAN WA SAHLAN, WELCOME TO SD ISLAM DARUL FALAH ....

Pencarian

Login Member

Username:
Password :

Kontak Kami


SEKOLAH DASAR ISLAM DARUL FALAH

NPSN : 20341625

Jl.Raya Tambak Barat, Gumelar Lor, Tambak 53196 Banyumas Telp.(0282) 497931


info@sdislamdarulfalah.sch.id

TLP : 0282-497931


          

Banner

Jajak Pendapat

Apakah informasi dari web ini bermanfaat?
Ya
Tidak
  Lihat

Statistik


Total Hits : 90759
Pengunjung : 30928
Hari ini : 6
Hits hari ini : 46
Member Online : 0
IP : 54.82.93.116
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

Rasa yang Tertinggal




Melewati pukul 14.10.

Rasa apa yang kau rasakan saat badan telah berbalik meninggalkan pintu gerbang sekolah ini?

Bahagia?

Rindu?

Cinta?

Lelah?

Penuh tanda tanya?

Kecewa?

Mungkin berbagai rasa itu beradu. Ada kalanya bahagia, ada kalanya rindu, ada kalanya lelah, kecewa, atau malah masih membawa sejuta tanya yang belum terpecahkan.

Duhai... ingatkah?

Saat pagi menjelang, berjabat tangan sambil mengupkan salam, satu demi satu tangan tangan mungil dari wajah yang begitu semangat dan ceria. Wajah-wajah yang membawa berjuta tanya, haus akan ilmu. Badan kecil dengan seragam berwarna biru, lengkap dengan pecinya yang sepadan bagi yang laki-laki, perempuan dengan jilbab lebarnya yang sangat anggun. Sepatu yang berwarna warni, mereka bebas memilih warna, selalu tampak bersih dan nyaman di kaki mereka. Tas bertuliskan “IHSAN, IMAN, ISLAM - SD ISLAM DARUL FALAH”, yang lebarnya bahkan sampai menutup seluruh badan. Terkadang sedikit miring ke sebelah kanan atau kiri gegara tempat minumnya yang besar penuh air, terlebih dengan buku-buku yang bereka bawa. Pun selalu mereka kenakan di pundak kecilnya, meski membuat jalannya sedikit tergopoh. Mereka tak pernah memikirkan betapa berat beban tas mereka.

Tidak pernah mendengar ada suara keluhan dimana mereka harus bergegas bangun lebih pagi, harus wudhu, sholat subuh, sarapan, semuanya dilakukan pada waktu yang masih pagi padahal masih kelas satu. Terlebih yang rumahnya jauh dari sekolah bahkan sampai menempuh waktu satu jam dengan kendaraan motor. Saat teman seumurannya dapat istirahat di rumah bahkan menonton acara televisi kesayangannya barang sebentar, mereka masih berada di sekolah menerima pelajaran. Kala yang lainnya tengah asyik bermain di rumah, barulah mereka dalam perjalanan pulang. Menjelang asar barulah mereka dapat menikmati kebersamaan dengan teman sebayanya di sekitar rumah, pun dengan waktu yang sangat terbatas.

Waktu malampun harus kembali dengan rutinitas sebagai seorang pelajar. Selepas maghrib sudah harus berjibaku dengan PR, tugas, atau menyiapkan ulangan harian. Setelah memastikan jadwal hari berikutnya benar - benar lengkap dan dimasukkan dalam tas, barulah merasa nyaman untuk sleeping beauty. Atau sekedar tiduran sambil bercengkerama dengan keluarga, sembari melihat televisi, dimana pada jam – jam tersebut tentu sudah sangat jarang ada serial anak-anak.

Duhai...

Betapa mereka benar-benar luar biasa, perjuangan mereka sangatlah pantas untuk mendapatan ilmu yang begitu luas. Mereka berhak mendapatkan pendidikan yang terbaik.

Di sekolah, se“nakal” apapun, mereka adalah anak-anak yang penuh polos dan selalu menghantarkan bahagia.  Perhatikanlah saat anak tersebut tengah duduk tertib, saat khusyuk menghafalkan, kala dengan lantang membaca ayat Al Qur’an huruf demi huruf,  kala ia tengah berfikir keras menyelesaikan tugasnya, kala mereka tengah tertawa lepas, ketika dengan bangganya ia beraksi di depan teman-temannya saat bermain bersama. Pandanglah dari kejauhan! Mari kita perhatikan!

Samakah rasanya saat memandang anak kita sendiri tengah terlelap pulas?

Dan sungguh! Hilanglah semua rasa yang mungkin pernah melintas sesaat di benak, tentang dia yang nakal, tentang dia yang cerewet, tentang dia yang usil, tentang dia yang bandel, tentang dia yang ... semua sirna. Tertinggallah rasa haru dan bangga. Ya, mereka anak-anak yang polos dan selalu membuat hati terharu kala mengingat perjuangan dan betapa mereka adalah menjadi kewajiban kita untuk mendidik.

Membersamai mereka dalam tujuh jam. Hari demi hari, pukul tujuh pagi sampai pukul dua siang, cukuplah menjadi waktu untuk benar-benar mengenal mereka. Meskipun masih banyak yang terlewat, tak bisa mengenal betul setiap diri. Setidaknya ini memberikan pelajaran, betapa setiap guru haruslah menjadi teladan, menjadi yang digugu dan ditiru.  Harapan besar yang mereka bawa dari rumah, semenjak mata terbuka kala pagi hari, ialah mereka sandarkan kepada kita, guru.

Sebagimana kita memperlakukan anak kita sendiri, dengan penuh cinta. Demikianlah pula untuk anak-anak kita di sekolah.

Sebagaimana bahagianya saat kembali berjumpa dengan keluarga di rumah. Begitulah seyogyanya saat kita meninggalkan setiap sudut ruang di sekolah ini.  

Ialah cinta. Rasa tidak proporsional itu yang hendaknya selalu tertinggal, kala langkah kaki atau deru motor tak lagi berada di dalam gerbang, saat mata tak bisa saling memandang dengan anak-anak, saat harus memendam rindu sampai esok pagi bertemu. Betapapun tugas dan kewajiban sebagai guru pun tak kalah berat dengan perjuangan mereka. Betapapun setiap diri punya tanggung jawab besar di rumah, di dalam keluarga. Betapapun kita punya masalah yang pelik yang harus diselesaikan

Dengannya, semoga hati kita menjadi semakin lapang ....

Kamis, 12 Mei 2016




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas